Lutim – Sebuah akun WhatsApp dengan nomor telepon +62-821-7864-7216, tiba-tiba menghubungi sejumlah nomor dan mengatasnamakan kandidat pemenang perhelatan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Bupati Luwu Timur (Lutim), Irwan Bachri Syam (Ibas).
Akun tersebut menggunakan foto profil Ibas, dengan kopiah dan memakai kemeja berwarna putih. Ketua Tim Pemenangan Ibas-Puspa, Herdinang, mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap nomor tersebut. Ia menegaskan bahwa akun tersebut bukan milik Ibas dan meminta warga untuk tidak menanggapinya.
“Jika ada yang masuk ke WhatsApp Bapak/Ibu dengan modus seperti ini, tolong untuk tidak dilayani. Ini palsu. Menggunakan foto dan atas nama Pak Ibas. Ini ada keluhan dari teman terkait permintaan bantuan dana,” ujar Herdinang, pada Kamis (13/2), dalam pesan yang beredar.
Modus penipuan melalui aplikasi pesan instan, memang bukan lagi hal baru. Sejak beberapa tahun terakhir, modus semacam ini makin marak terjadi, seiring dengan kian terhubungnya setiap orang ke jagat media sosial.
Bentuk penipuan berkedok tunggakan atau kelengkapan data pajak, penipuan pulsa, klik aplikasi tertentu, hingga mencatut nama-nama tokoh publik untuk mengelabui korban, hanya sebagian kecil dari modus operandi yang biasanya digunakan.
Hal ini diketahui, karena beberapa waktu silam, awak Hooboe.id juga sempat mendapat telepon dari sebuah akun yang mengatasnamakan Direktorat Jenderal Pajak. Akun bernomor +62-852-507-8446, dengan profil logo DJP, tiba-tiba melayangkan sebuah file dokumen atas berkas perusahaan yang dinyatakan telah dinonaktifkan.
“Saya Andika octariza dari Team pendataan dan informasi Direktorat Jendral Pajak, Ingin melakukan revisi data penanggung jawab bapak/ibu. Mohon di konfirmasikan kembali kepada kami jika data di atas sudah benar, apabila ada yang telah berubah maka diharapkan untuk memverifikasi kembali data diri bapak/ibu Derektorat jendral pajak. pajak kuat indonesia maju,” tulis pemilik akun, melalui nomor tersebut.
Bersama file dokumen itu pula, termuat catatan nama ‘seolah’ pegawai pajak, dan beberapa keterangan lainnya yang meminta sejumlah konfirmasi, hingga seruan untuk mengikuti langkah-langkah tertentu.
Tak lama berselang, sebuah telepon dilayangkan oleh pemilik akun. Ia meminta agar dapat mengisi formulir serta kelengkapan data pada situs DJP Online, yang alamat situsnya akan dikirimkan ke nomor pengguna.
Sayang sekali, hingga kini alamat situs dimaksud tak sempat dikirim. Pemillik akun sempat memberi keterangan, bahwa untuk mencegah kesalahan data, pengisian ke alamat situs tersebut mesti dipandu oleh pemilik akun melalui panggilan telepon.
Bila menemukan kasus serupa, ada baiknya selalu waspada dan tidak mudah percaya, terlebih bila sudah bersangkutpaut dengan transfer dana, permintaan bantuan keuangan, dan semacamnya. Beberapa langkah konfirmasi sebaiknya dilakukan, misalnya terlebih dahulu menghubungi pihak-pihak yang dianggap terkait.
Hanya mencari via akun resmi sebaiknya juga menjadi perhatian, pula melakukan instalasi hanya melalui aplikasi-aplikasi yang telah tervalidasi. Bila dianggap mulai meresahkan, sebaiknya segera melaporkan ke pihak berwenang untuk menghindari potensi kerugian.






