Hooboe.id – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin negara-negara Eropa, di London, Inggris, bersepakat segera menyusun dokumen rencana perdamaian atas konflik Rusia-Ukraina kepada Amerika Serikat (AS). Hal ini ditegaskan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dalam konferensi persnya, pada Minggu (2/3), usai menghadiri puncak pertemuan tersebut di Lancaster House.
Mengutip dari The Times, Starmer menggarisbawahi komitmen sekitar 19 pemimpin negara Eropa yang telah hadir, baik dalam dukungannya kepada Ukraina maupun kehendak bersama mereka untuk lebih meningkatkan pertahanan Eropa.
Ia menganggap setiap pemimpin negara Eropa, selayaknya mengambil peran untuk bersolidaritas terhadap kejadian yang mendera di negara-negara lainnya di kawasan. Terlebih dalam konflik Rusia-Ukraina yang kini hampir memasuki tahun ketiganya, karena telah membawa ekses cukup berat bagi setiap negara di kawasan.
“Saya tidak menginginkan konflik di Ukraina, di Eropa, dan tentu saja tidak di Inggris Raya. Saya menginginkan stabilitas di Inggris Raya. Satu hal yang diceritakan sejarah kita adalah bahwa jika ada konflik di Eropa, konflik itu akan berdampak ke pantai kita,” sebut Starmer.
Inggris sendiri telah bersiap untuk mengambil lebih banyak peran dalam menyediakan sumberdaya finansial demi upaya ini. “Keamanan Eropa adalah tanggungjawab kita semua. Kami akan melangkah maju dalam tugas bersejarah ini dan meningkatkan investasi kami dalam pertahanan kami sendiri,” ia berujar.
Lebih banyak negara Eropa, menurutnya juga harus segera mengambil langkah yang sama. Apalagi, paska pertemuan Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada Jumat (28/2) di Gedung Putih, yang digambarkan sebagai “pertemuan yang mengerikan” dan gagal, Eropa harus mengambil peran lebih besar demi menjaga eskalasi agar tak meluas.
Bersama Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya, Starmer mengatakan segera menyusun jadwal untuk bertemu Trump, dengan membawa dokumen rencana perdamaian bagi Ukraina. Ia bahkan mengatakan akan membangun “koalisi sukarela” bersama Perancis dan Ukraina, bila ke depannya kesepakatan damai dapat dicapai.
“Tujuan utama saya adalah menjembatani hal ini dan membawa kita kembali ke fokus utama. Kami kini telah sepakat bahwa Inggris bersama Prancis dan mungkin satu atau dua negara lain akan bekerja sama dengan Ukraina untuk menyusun rencana guna menghentikan pertempuran dan kemudian membahas rencana tersebut dengan Amerika Serikat,” pintanya.
Ia juga sempat mengatakan, telah melakukan kontak khusus dengan Trump, dan meski terjadi situasi yang cukup kacau dalam pertemuan terakhir antara Trump dan Zelensky, ia berkata AS bukanlah sekutu yang tak dapat diandalkan.
“AS telah menjadi sekutu yang dapat diandalkan bagi Inggris selama beberapa dekade, dan akan terus demikian. Tidak ada dua negara yang sedekat kedua negara kita dan pertahanan, keamanan, dan intelijen kita saling terkait dengan cara yang tidak dimiliki dua negara lain,” kata Starmer dalam wawancara lainnya, beberapa jam sebelum berlangsungnya pertemuan.
Para pemimpin negara-negara Eropa juga banyak memberi komentar terkait sisi penting pertahanan Eropa dan perdamaian abadi bagi Ukraina. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, misalnya, memberi pernyataan bila seharusnya ada jaminan, kesepakatan damai yang akan dicapai untuk Ukraina bukanlah penyelesaian yang rapuh.
“Satu hal yang sama sekali tidak dapat kita tanggung adalah perdamaian yang tidak bertahan lama,” sebutnya. Sehingga, perlu bertindak berhati-hati dalam mengupayakan langkah kesepakatan, agar tidak mudah dilanggar di masa depan oleh para pihak.
Agak senada, Presiden Perancis, Immanuel Macron, juga sempat mengungkapkan bila upaya damai antara Rusia dan Ukraina, mustahil dicapai tanpa keterlibatan pihak Ukraina. Upaya negosiasi damai yang dilakukan pemerintah AS dan Rusia di Riyadh, Arab Saudi, pada 18 Februari 2025 silam, tak saja mengabaikan suara Ukraina, tetapi juga terkesan menutup pintu bagi negara-negara Eropa.
Lebih jauh Macron berkata, “Kami menginginkan perdamaian. Namun, kami tidak menginginkannya dengan harga berapa pun, tanpa jaminan.” Dalam upaya menuju tahap perdamaian ini, Macron mengusulkan gencatan senjata bertahap, yang dapat dimulai selama sebulan masa de-eskalasi di udara, laut, dan infrastruktur energi.
Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, amat memuji dukungan seluruh sekutu dan mitranya di Eropa. Setelah menyinggung tentang arah diskusi dalam pertemuan KTT tersebut, yang disebutnya, tetap “berfokus pada penguatan kerjasama dan kemitraan dengan AS”, ia mengungkapkan rasa terima-kasihnya atas seluruh dukungan mereka untuk negaranya.
Terlebih, meski pertemuannya dengan Trump tak membuahkan hasil yang baik, tetapi Inggris telah mengumumkan paket kesepakatan baru kepada Ukraina, senilai 1.6 Milliar poundsterling, berupa akses dana eksport Inggris untuk pembelian lebih dari 5000 rudal pertahanan udara.







