Hooboe.id – Pemimpin negara-negara Arab bersepakat mengadopsi proposal tawaran Mesir senilai $53 Milliar untuk rekonstruksi Gaza, sebagai alternatif dari konsep Riviera Timur Tengah yang diserukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Pada puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) darurat negara-negara Arab, yang berlangsung di Doha, Mesir, Selasa (4/3), 112 halaman draft dokumen yang diajukan oleh Mesir, dianggap mewakili pandangan seluruh negara-negara Arab dalam melihat rekonstruksi Gaza tanpa pembicaraan tentang pemindahan paksa seluruh warga Palestina.
Berdasarkan laporan dari Reuters menyebut, draft ajuan yang dibawa oleh Mesir memuat rencana pemulihan di sepanjang Jalur Gaza pada tahun 2030, meliputi pembangunan perumahan, taman, hingga pusat-pusat komunitas. Rencana ini juga memasukkan pembangungan kembali pelabuhan dan bandara, pusat tekhnologi, serta perhotelan di sepanjang garis pantai Gaza.
Hanya saja, draft ini tidak memasukkan pemerintahan Hamas di sepanjang jalur Gaza atau otoritas di Palestina, dalam klausus yang akan ikut terlibat dalam prosedur rekonstruksi. Misi Bantuan Pemerintahan akan mengambil alih kuasa atas jalur Gaza dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, dan bertanggungjawab atas seluruh bantuan kemanusiaan dan selama berlangsungnya proses rekonstruksi.
“Tidak akan ada pendanaan internasional yang besar untuk rehabilitas dan rekonstruksi Gaza, jika Hamas tetap menjadi elemen politik yang dominan dan bersenjata di lapangan yang mengendalikan pemerintahan lokal,” disebut Reuters, saat mengutip kata pembuka dalam draft itu.
Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, paska berlangsungnya pembicaraan puncak dalam KTT, mengatakan bila seluruh usulan penawaran yang diberikannya, telah diterima baik oleh pihak Hamas maupun pihak otoritas di Palestina. Ia bahkan menyebut, bila Trump pula akan mampu mencapai perdamaian karena Jalur Gaza telah luluh-lantak oleh militer Israel.
Beberapa pernyataan akhir dalam KTT, seperti ditulis Anadolu Agency, menyebut bila rencana rekonstruksi dan pemulihan dini Gaza akan menjadi rencana komprehensif bagi negara-negara Arab berdasarkan studi Bank Dunia dan Dana Pembangunan PBB, yang akan dijalankan di bawah koordinasi bersama, antara pemerintahan di Palestina dan negara-negara Arab.
KTT juga memberi penegasan terkait penolakannya untuk mengeluarkan warga Palestina selama proyek rekonstruksi, mengecam Israel atas penutupan penyeberangan sehingga menghambat masuknya bantuan ke Gaza, serta menyatakan penolakan atas tindakan Israel yang secara sengaja menggunakan kelaparan sebagai sarana mencapai tujuan politiknya.
Sementara itu, belum banyak komentar dari pihak AS paska berlangsungnya KTT dan seluruh hasilnya. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, Brian Hughes, hanya menuturkan bila AS memiliki persoalan yang cukup berat menyangkut Hamas. “Presiden Trump sudah jelas bahwa Hamas tidak dapat terus memerintah Gaza,” pintanya, saat ditanya tentang dukungan AS tentang rencana Mesir di Gaza.
Ia menimpali, meski uraian Trump tentang Riviera Timur Tengah dan beberapa lainnya, dipandang terlalu berani dan cenderung merendahkan warga Gaza, tetapi gagasannya telah menjadi pemantik bagi negara-negara Arab untuk secara bersama mencari jalan keluar dari kemelut yang terus terjadi di sepanjang jalur Gaza.
“Walaupun Presiden tetap pada visinya yang berani untuk Gaza pascaperang, ia menyambut masukan dari mitra Arab kami di kawasan tersebut. Jelas usulannya telah mendorong kawasan tersebut untuk duduk bersama daripada membiarkan masalah ini berubah menjadi krisis lebih lanjut,” Hughes menyebut.







