3 Etika Bisnis yang Wajib Diketahui

Banyak orang yang biasa bilang bahwa “business is business”. Istilah ini amat familiar dan sering digunakan pada situasi yang beragam. Misalnya, saat seorang kenalan berbelanja ke toko dan meminta sedikit diskon dengan harga teman, kamu barangkali akan mengatakan kepadanya kalimat di atas. 

Situasi lainnya saat seorang pelaku bisnis tengah memberikan penawaran kepada seorang konsumen atas produk tertentu. Ia menjelaskan produknya amat bersemangat, menceritakan semua keunggulan produk dibandingkan produk lainnya, tetapi bisa jadi  sama sekali amat berbeda dari kenyataan produk yang ditawarkan. Kamu yang melihat situasi itu kemungkinan akan berkata, “business is business”.

Baik dalam situasi pertama maupun kedua, relatif punya sedikit kesamaan. Selalu mengesankan bisnis sebagai dunia tanpa solidaritas dan tak kenal kawan, malah dunia yang sama sekali tak berurusan dengan etika dan prinsip-prinsip tertentu. Asal barang bisa laku atau pengguna jasa bisa datang kembali, bisnis tetaplah bisnis. 

Padahal, dalam kenyataannya dunia bisnis adalah dunia yang paling memiliki peluang dalam menjaga standar-standar etis. Karena tidak saja melibatkan dirinya sebagai entitas pribadi, tetapi bisa jadi berada dalam sebuah wadah bersama banyak individu (organisasi), menjalankan aktifitas bisnis tertentu di tengah orang banyak (masyarakat dan mitra), serta bertemu banyak pihak yang diharapkan dapat menjadi pelanggan untuk membeli atau menggunakan jasa perusahaan (konsumen).

Penipuan dan buruknya pelayanan bisa berakibat fatal bagi perjalanan bisnis dari sisi konsumen. Longgarnya etika pimpinan dan pekerja dapat berakibat kurang baik pada sisi organisasi bisnis, serta kurangnya solidaritas dan penghormatan bisa berakhir buruk pada sisi mitra dan masyarakat.

Bila etika bisnis difahami sebagai seperangkat prinsip dan nilai moral yang mengatur perilaku pebisnis dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, maka standar-standar etis tertentu pastinya ditetapkan oleh masing-masing pelaku bisnis, minimal dalam memastikan target konsumen mereka dapat memutuskan membeli atau datang kembali untuk membeli lebih banyak lagi. 

Baca Juga : 5 Hal yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Memulai Bisnis

Dengan menerapkan etika bisnis, seorang pelaku bisnis dapat mempertahankan dan memperbaiki kemitraan dengan pelaku bisnis lainnya, menjaga agar tak menemui kendala dan gangguan dari masyarakat dan sebaliknya, juga agar selalu produktif beroperasi dalam lingkungan kerja perusahaan yang berkualitas. 

Mengutip dari Mulyaningsih dan Hermina, dalam “Etika Bisnis” (2017), bahkan menyebut bila penerapan standar dan manajemen etika di dalam bisnis, tidak saja menjauhkan dan menghindarkan bisnis dari berlangsungnya krisis, namun juga membawa perusahaan  pada kesuksesan keuangan.

Setiap pelaku bisnis yang menjalankan prinsip-prinsip etis dapat bertindak secara positif dalam berbagai situasi, termasuk ketika perusahaan berada dalam kondisi-kondisi dilema untuk menjalankan standar etika karena ketatnya persaingan usaha. Salah satu faktornya, karena setiap tindakan non-etis juga selalu menjadi jalan yang bisa ditempuh pula oleh setiap pesaing.

“Etika bisnis adalah bisnis yang dilakukan dengan metoda dan prinsip yang berlandaskan pada cara berfikir positif dalam melakukan bisnisnya. Hal ini juga berlaku dalam antisipasi risiko kegagalan yang mungkin akan dihadapi. Dalam rangka antisipasi risiko yang akan terjadi tetap dijalankan sesuai dengan prinsip yang menguntungkan perusahaan tanpa merugikan pihak lain, sehingga terjadi persaingan yang bersifat positif/sehat, akibatnya terjadi keselarasan dan keseimbangan yang harmonis antara pebisnis yang ada,” sebut Mulyaningsih.

Apa yang patut dan tidak di dalam bisnis memang bisa berbeda oleh setiap perusahaan di setiap tempat. Biar begitu, terdapat beberapa konsep etis yang tampaknya berlaku sama untuk setiap perusahaan bisnis. Malah bila diamati lagi, setidaknya ada tiga prinsip dari etika bisnis yang sebaiknya dipegang teguh dan diterapkan oleh setiap pelaku bisnis agar aktifitas mereka dapat berjalan baik dan berkelanjutan, yakni;

1. Memegang Teguh Kejujuran

Tak ada nilai moral mendasar yang diajarkan oleh para bijakawan, rohaniawan, hingga para pelaku bisnis kenamaan, selain gagasan tentang kejujuran. Malah boleh dikatakan bila kejujuran merupakan dasar dari semua prinsip moral. Pelaku bisnis harus bersikap jujur dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, baik dalam hal produk atau jasa yang ditawarkan, transaksi, maupun informasi yang disampaikan kepada publik.

Setiap bisnis yang tengah membentuk pasar, atau berharap dapat terus melanjutkan kemitraan dengan pelaku bisnis lainnya, selalu berurusan dengan sesuatu bernama “trust” atau kepercayaan. Perusahaan-perusahan yang telah berkecimpung lama dalam ranah bisnis yang mereka geluti, menghabiskan seluruh waktunya dalam membangun dan membentuk kepercayaan.

Sekali kepercayaan rusak, perusahaan bisa menghabiskan lagi seluruh waktu, tenaga, hingga anggaran mereka dalam mengembalikan citra baiknya. Bagaimana membentuk ‘trust’, tentu ada banyak strategi yang bisa dilakukan. Tapi prinsip pendahuluan yang mesti dilakoni, adalah dengan bertindak jujur atau memberikan kesan kejujuran.

Saat menawarkan produk atau jasanya, setiap pelaku bisnis harus memberikan penjelasan proporsional berdasarkan spesifikasi yang mereka janjikan. Konsumen yang tak menemukan spesifikasi yang sesuai atas tawaran produk, bisa jadi akan membeli saja produk tertentu, tetapi tidak akan membelinya dua atau tiga kali lagi.

Demikian pula saat memberikan informasi terkait harga, kualitas dan manfaatnya. Memang pada kebanyakan kasus, setiap pemasaran produk selalu menawarkan nilai lebih dari produk mereka. Cara yang lazim digunakan adalah membandingkannya dengan produk lain.

Mengatakan kekurangan yang terdapat di dalam produk ketimbang produk lainnya bisa menjadi bencana dalam dunia pemasaran, tetapi tak perlu berbohong dalam memberikan gambaran harga, kualitas dan manfaat produk. Salah satu sebabnya, karena konsumen yang tak menemukan harga, kualitas atau manfaat yang tak sesuai promosi bisa menganggap pelaku bisnis berbohong, atau produk memang tak berkualitas.

2.  Selalu Menerapkan Keadilan

Keadilan bisa digambarkan sebagai memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Prinsip ini amat penting diterapkan, terutama dalam ruang lingkup perusahaan bisnis sendiri. Misalnya, menerapkan keadilan terhadap karyawan, dengan  memberikan upah yang layak dan memberikan jaminan sosial kepada mereka. 

Barangkali juga dalam kenyataan dunia bisnis yang sering kita temui, pandangan ini bisa jauh panggang dari api. Akan tetapi, bila melihat perusahaan-perusahaan yang tak banyak berkonflik dengan karyawan mereka sendiri, selalu memiliki peluangnya untuk lebih cepat berkembang ketimbang perusahaan yang menghabiskan waktunya mengurusi perkara-perkara internal.

Baca Juga: Kenali Jenis-Jenis Bisnis yang Menjanjikan di Masa Depan

Harus diingat bahwa karyawan merupakan salah satu faktor kunci dalam organisasi bisnis, sehingga setiap pelaku bisnis sepatutnya dapat memberikan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi karyawannya. Selain itu, sikap adil ini juga berlaku saat menjalankan bisnis, baik terhadap konsumen maupun pemasok.

Terkait konsumen bisa bersangkut-paut dengan mengupayakan produk berkualitas dengan harga yang wajar, memberikan pelayanan yang baik, hingga membuka layanan aduan. Beberapa perusahaan bisnis bahkan menerapkan strategi tertentu dalam pelayanan konsumen, dengan mengajarkan kepada karyawan mereka agar bersikap sehangat dan seramah mungkin di depan konsumen.

Terhadap pemasok dan mitra bisnis lainnya, bentuk keadilan barangkali berupa mengupayakan agar pembayaran tagihan kepada pemasok dapat dilakukan tepat waktu dan sesuai dengan kesepakatan. Pelaku bisnis yang sering telat bayar akan sulit membangun kepercayaan, dan pada akhirnya bakal mengalami kendala-kendala dalam melancarkan sirkulasi bisnisnya.

3. Menjalankan Tanggung jawab Sosial dan Lingkungan

Telah banyak diketahui bila setiap perusahaan yang berjalan di suatu tempat, selalu berurusan dengan karakter masyarakat yang mendiami wilayah tersebut. Setiap pelaku bisnis mau tak mau, mesti bersiap berurusan dengan persoalan-persoalan masyarakat yang berada di sekitar wilayah tempatnya beroperasi.

Bentuk dari tanggung-jawab ini mungkin bisa bermacam-macam, tetapi terutama dalam memberikan respon sosial dan lingkungan. Sebuah organisasi bisnis, pada akhirnya juga semacam tetangga baru dalam pemahaman ‘oikonomia’ sebagai pengelolaan rumah tangga. Setiap pelaku bisnis harus memahami dirinya sebagai bagian dari pranata sosial tempatnya bermukim, yang hak dan kewajiban masyarakat atasnya berlaku sama atau malah lebih besar.

Perusahaan yang mengabaikan komitmen dan tanggung-jawab sosialnya, selalu punya kesulitan dalam membentuk citra perusahaan sebagai bagian penting dari pranata sosial, yang kemungkinan besar juga akan menjadi target konsumennya. Pelaku bisnis dapat menjalankan tanggungjawabnya, dengan cara mengurangi dampak negatif kegiatan bisnisnya dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Hal lain dari pentingya tanggung jawab sosial dan lingkungan ini, selain menjadikan masyarakat sebagai target konsumen, tentu juga karena perusahaan bisa jadi bakal memanfaatkan sumberdaya yang berada dalam kawasan masyarakat untuk kebutuhan bisnisnya. Mengabaikan aspek pemeliharaan terhadap lingkungan,  bisa menimbulkan bencana bagi masyarakat dan perjalanan siklus bisnis sendiri.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan bisnis, misalnya melakukan kegiatan penanaman pohon atau memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan, atau menerapkan kebijakan sistem pengelolaan limbah 0.

Dengan menerapkan tiga prinsip dalam etika bisnis tersebut, sebuah perusahaan bisa beroleh banyak manfaat berkesinambungan. Tidak saja dalam menumbuhkan kepercayaan, mengupayakan kinerja perusahaan tetap berjalan baik, hingga menjaga agar siklus lingkungan dan sosial tetap asri dan berkelanjutan hingga anak-cucu.

Related Posts

Mahasiswa KKN Unhas Dorong Digitalisasi Desa Lagading lewat Sosialisasi Penataan Administrasi Berbasis Google Looker Studio

Sidrap, Desa Lagading – Kegiatan sosialisasi penataan administrasi desa berbasis digital dilaksanakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) di Kantor Desa Lagading, Kecamatan Pitu…

CASN Lutim Unjuk-Rasa, Prabowo Percepat Pengangkatan CPNS dan PPPK

Lutim – Presiden RI, Prabowo Subianto, telah menginstruksikan jadwal baru terkait percepatan pengangkatan calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2024 silam, dapat dilaksanakan pada bulan Juni 2025, sedangkan Pegawai Pemerintah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Mahasiswa KKN Unhas Gelar Program Pembinaan Dasar Baca Tulis Huruf Arab sebagai Upaya Mengurangi Buta Huruf Arab di Desa Lagading

  • By Admin
  • January 22, 2026
Mahasiswa KKN Unhas Gelar Program Pembinaan Dasar Baca Tulis Huruf Arab sebagai Upaya Mengurangi Buta Huruf Arab di Desa Lagading

Mahasiswa KKN Unhas Dorong Digitalisasi Desa Lagading lewat Sosialisasi Penataan Administrasi Berbasis Google Looker Studio

  • By Admin
  • January 20, 2026
Mahasiswa KKN Unhas Dorong Digitalisasi Desa Lagading lewat Sosialisasi Penataan Administrasi Berbasis Google Looker Studio

Mahasiswa KKN-T Gelombang 115 Universitas Hasanuddin Laksanakan Sosialisasi Pembuatan Filter Air Sederhana untuk Warga Desa Lagading

  • By Admin
  • January 20, 2026
Mahasiswa KKN-T Gelombang 115 Universitas Hasanuddin Laksanakan Sosialisasi Pembuatan Filter Air Sederhana untuk Warga Desa Lagading

Pemda Lutim dan IAIN Palopo, Jalin Kerjasama Peningkatan Mutu Keagamaan di Daerah

  • By Admin
  • March 18, 2025
Pemda Lutim dan IAIN Palopo, Jalin Kerjasama Peningkatan Mutu Keagamaan di Daerah

CASN Lutim Unjuk-Rasa, Prabowo Percepat Pengangkatan CPNS dan PPPK

  • By Admin
  • March 18, 2025
CASN Lutim Unjuk-Rasa, Prabowo Percepat Pengangkatan CPNS dan PPPK

Rapat Pleno TPKAD Sulsel, Wabup Lutim Ingat Pesan Kembangkan UMKM

  • By Admin
  • March 18, 2025
Rapat Pleno TPKAD Sulsel, Wabup Lutim Ingat Pesan Kembangkan UMKM