Sanaa – Asap mengepul di beberapa kota di Yaman. Agresi udara bersama Inggris dan Amerika Serikat (AS) telah melukai dan membunuh puluhan orang. Biar begitu, Juru Bicara Militer Yaman, Yahya Saree, mengatakan pada Senin (17/3), serangan itu tak menggoyahkan dukungan mereka untuk Palestina, dan setiap kapal Israel di Laut Merah tetap berada dalam blokade hingga bantuan kemanusiaan mencapai Gaza.
Melalui laporan video yang disiarkan, Yahya memperingatkan Inggris dan AS, bahwa dalam 47 serangan udaranya pada Sabtu, 15 Maret 2025, yang telah menghantam beberapa provinsi di Yaman, termasuk Sanaa, Saada, Al Bayda, dan Marib, telah membawa semua kapal perang Inggris dan AS yang berada di Laut Merah dan Laut Arab, akan menjadi target sah dari seluruh armada militer Yaman.
Ia pula mengumumkan bahwa mereka telah menargetkan kapal induk AS USS Harry Truman dan kapal perang pendampingnya di Laut Merah utara. “Serangan itu melibatkan 18 rudal balistik dan jelajah beserta pesawat nirawak dalam serangan terkoordinasi oleh pasukan rudal, udara, dan laut Yaman,” ungkap Yahya, dilansir dari The Cradle.
Serangan balasan Yaman ini, merupakan respon awal atas agresi udara Inggris dan AS, yang sempat disebut oleh pihak Kementerian Kesehatan Yaman, sebagai operasi militer terbesar AS sejak Presiden AS, Donald Trump, menduduki Gedung Putih. “Sedikitnya 31 orang meninggal” dalam serangan tersebut, merujuk pada laporan Reuters, dan akan terus berlanjut hingga beberapa pekan ke depan.
Pihak AS sendiri telah memberikan peringatan pada kelompok perlawanan di Yaman, sehari setelah agresi mereka berlangsung. Melalui Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengatakan serangan AS akan terus dilakukan hingga Houthi (sebutan barat bagi kelompok Ansarullah Yaman-red), pula menghentikan blokade dan serangan mereka ke kapal-kapal yang melewati Laut Merah.
“Begitu pihak Houthi mengatakan kami akan berhenti menembaki kapal-kapal kalian, kami akan berhenti menembaki pesawat tak berawak kalian, kampanye ini akan berakhir, tetapi hingga saat itu tiba, kampanye ini tidak akan berhenti,” sebut Pete kepada media.
Ia menganggap tindakan Yaman merupakan tindakan sewenang-wenang dan telah membahayakan armada pelayaran di sepanjang jalur air tersebut. Tak itu saja, ia juga menyinggung mengenai dukungan Iran yang dianggapnya telah terlalu lama, dan memperingatkan kepada mereka agar segera mundur dan tak lagi terlibat membantu Yaman.
“Ini tentang menghentikan penembakan terhadap aset … di jalur air yang penting itu, untuk membuka kembali kebebasan navigasi, yang merupakan kepentingan nasional utama Amerika Serikat, dan Iran telah mendukung Houthi terlalu lama. Mereka sebaiknya mundur,” ia berkata.
Aksi berbalas serangan ini kembali muncul, setelah pengumuman kelompok Ansarullah Yaman di seminggu silam, yang memberi tenggat empat hari atas tindakan blokade bantuan kemanusian yang dilakukan Israel. Pihak Ansarullah memberikan ultimatum akan melakukan serangan, bila dalam tenggat waktu itu, Israel tetap menahan seluruh bantuan kemanusiaan memasuki Gaza.
Paska habisnya tenggat waktu ultimatum yang diberikan di beberapa hari silam, kelompok Ansarullah Yaman kembali mengumumkan penutupan Laut Merah bagi seluruh kapal-kapal pelayaran yang terafiliasi atau hendak melakukan pelayaran menuju Israel. Hal ini disebutnya dilakukan, sebagai bentuk dukungan pemerintah dan rakyat mereka, kepada masyarakat Gaza atas kebiadaban Israel.







