Menyebut nama Paulo Coelhe, orang segera terbawa dalam sebuah kalimat menggugahnya yang amat tenar. “Jika engkau menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta akan membantumu meraihnya.” Untaian kalimat serupa mantra itu, adalah sedikit cuplikan dari salah satu karya terkenal Coelho berjudul Sang Alkemis (1988).
Sebuah karya novel terkenalnya yang telah diterjemahkan ke lebih dari 80 bahasa, bahkan termasuk buku paling laris yang pernah diterbitkan hingga kini. Tema yang digarap penulis asal Brazil itu, memang selalu sarat dengan spiritualitas, cinta, pencarian jati diri, impian, juga tantangan.
Pun, dalam sebuah karyanya yang lain berjudul, “The Magical Moment, Saat-Saat Penuh Inspirasi (1993)”, mantra-mantra Coelho seperti dirapal untuk mudah terkenang bagi setiap pembaca yang merindukan untaian-untaian kata pelembut hati.
Tapi karya ini sedikit berbeda dari biasanya. Bukan novel atau kumpulan cerita, hanya kumpulan refleksi Coelho yang dikemas dalam kutipan-kutipan ringan dan singkat. Sebagian besar merupakan tweet-tweet Coelho di lini media sosial, yang dipersembahkan kepada jutaan followernya di seluruh dunia.
Tak seluruhnya berupa ungkapan baru, tentu saja. Sebagian merupakan cuplikan yang bisa dibaca dari karya-karyanya yang telah diterbitkan. Dikreasi bersama coretan-coretan bergambar, inspirasi-inspirasi Coelho dalam buku ini, dapat ditemui dalam tujuh bagian besar kutipan permenungannya dalam melihat dunia.
Bahkan, membaca bagian-bagian awalnya saja bisa membuat meleleh. Pada bagian pertama misalnya, ia memberinya judul “Cinta tak Pernah Berubah, Manusialah yang Berubah”. Atau, pada bagian lainnya, ia menyebut, “Penderitaan hanyalah sementara, Menyerah berakibat untuk selamanya.”
Cukup banyak kutipan yang bisa direnungkan masing-masing pembaca dari karya ini. Coelho tak pernah cukup mendayu seperti penulis cerita dan novel lainnya, tapi kalimat-kalimatnya dalam dan hangat.
Orang bisa segera akrab dengan apa yang dituturkannya, karena amat logis, dan, dalam cara pandang tertentu, seringkali cukup dekat. Ia misalnya berkata, “Cinta itu ibarat Twitter: di-Follow, di-unfollow, atau di-Block.” Atau ungkapannya yang lain, “Lebih baik mencintai dan kehilangan, daripada tidak pernah mencintai.”
Bentuk cinta yang dituturkannya jelas tak hanya sesempit cinta sepasang kekasih, tapi merentang dalam dimensi universal cinta sebagai energi kehidupan. Sesuatu yang tulus dan tak egois. Sesuatu yang dilakukan oleh setiap mahkluk hidup dan tak hidup, bahkan saat mereka tak terlalu faham pengertian kata tersebut.
Coelho barangkali mengatakannya dengan ringkas melalui, “Orang bijak mencintai, orang bodoh berusaha memahami cinta.” Di tempat berbeda, sebuah kutipan yang terdengar familiar coba dirangkum Coelho ke dalam ringkasan, “Jangan berharap disukai oleh semua orang. Tak seorang pun bisa menyenangkan hati setiap orang.”
Pada bagian lainnya, kutipan-kutipan Coelho bisa menjadi motivasi di tengah kegamangan melihat situasi sekitar. “Banyak orang takut mengejar mimpi, sebab mereka merasa tidak layak memperolehnya,” ia menyebut, pada bagian dua buku ini.
Beberapa kutipannya memberi ibarat yang baik untuk situasi sulit yang kerap dihadapi setiap orang, sebelum menawarkan sedikit ramuan dari hantaman-hantaman kehidupan yang sukar dikendalikan. Coelho berkata, “Kita tidak bisa mengubah arah angin. Tetapi kita bisa menyesuaikan layar-layar kita supaya kita sampai ke tujuan.”
Spiritualitas tampak cukup lekat dalam ungkapan itu, terutama bagi mereka yang seringkali mengalami situasi patah dan gagal berulangkali. Padahal, ungkap kitab suci, kegagalan dan sedikit kesusahan adalah bagian perjalanan hidup setiap orang sebelum datangnya banyak kemudahan.
Ada banyak lagi kutipan-kutipan pamungkas dari Coelho yang bisa ditemukan di karya ini. Tentu saja sebagai kutipan ringan, cara paling baik untuk membacanya, adalah melihat stuktur bagiannya sembari membaca perlahan, lalu berefleksi terhadap makna-makna yang bisa diraih dari setiap mantranya.
Siapa tahu, dalam momen-momen tertentu, di tengah keseharian aktifitas yang terus coba dihadapi, mantra-mantra itu bisa dirapal dan dibaca ulang, tak saja untuk memberi motivasi dan membuat tegar bagi pembacanya, tapi mungkin juga meluluhkan yang mendengarnya.








