Hooboe.id – Mulai ada sedikit jalan terang atas kelanjutan pembicaraan gencatan senjata fase kedua antara Hamas – Israel. Setelah sempat tertunda beberapa lama, pihak Israel mulai memberikan sinyalemen akan mengirim utusan mereka ke Doha, Qatar, di Senin esok. Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, disebut telah “menerima undangan mediator yang didukung AS”.
Pada saat yang sama, meski juru bicara Hamas, Abdel-Latif al-Qanoua, tidak memberi lebih banyak rincian, pihak Hamas setidaknya membuat keterangan mulai adanya “sinyal positif”, pada Minggu (9/3), “dalam pembicaraan dengan mediator Mesir dan Qatar mengenai dimulainya negosiasi mengenai fase kedua gencatan senjata yang tertunda,” demikian ditulis Associated Press.
Sementara situs Axioos menyebut, dari informasi dua orang pejabat AS, utusan Gedung Putih, Steve Witkoff, dikabarkan akan melakukan perjalanan ke Doha, di Selasa malam, untuk memulai pembicaraan gencatan senjata, dan, tampaknya pula untuk menindaklanjuti pembicaraan tentang kesepakatan sandera.
Beberapa waktu sebelumnya, di sela ancaman Presiden AS, Donald Trump, untuk pembebasan sandera AS yang ditawan oleh Hamas, secara tiba-tiba pihak Gedung Putih membuat konfirmasi mengejutkan. Mereka menyatakan bila telah membuat komunikasi khusus dengan pihak internal Hamas, dan melakukan sebuah perundingan terkait tawanan ini.
Belum diketahui pasti apakah terdapat desakan AS atas perubahan sikap Israel untuk mulai memasuki lagi pembicaraan gencatan senjata. Apalagi, sebanyak delapan sandera Israel yang telah dibebaskan oleh Hamas, sempat bertandang ke AS dan melakukan pertemuan dengan Trump di Gedung Putih, pada Rabu (5/3) lalu.
Seorang mantan sandera ketika itu mengatakan, “Tuan Presiden, kembalinya perang berarti hukuman mati bagi para sandera yang masih hidup. Tolong, Tuan, jangan biarkan Netanyahu mengorbankan mereka.” Tak dapat dipungkiri, upaya untuk memasuki pembicaraan gencatan senjata baru, memang menemui banyak hambatan, terutama paska lawatan Netanyahu ke AS pula di sebulan sebelumnya.
Hari saat ia tiba di AS, pada 4 Februari 2025, seharusnya menjadi hari yang sama ia mengirim negosiatornya ke Doha. Paska lawatan ke AS, Netanyahu membuat sedikit penawaran masa perpanjangan pertukaran tahanan, yang disebutnya sebagai “proposal Witkoff”. Penawaran ini hadir sehari setelah berakhirnya masa gencatan senjata tahap pertama, yang waktunya dianggap telah berakhir di seminggu silam.
Bila mengacu pada penawaran tersebut, menunjukkan bila Hamas harus membebaskan setengah dari sandera yang tersisa, sebagai imbalan atas perpanjangan gencatan senjata dan perundingan untuk perjanjian gencatan senjata yang lebih langgeng. Sayangnya, penawaran ini sama sekali tak menyebut sandera Palestina, yang membuat Hamas menuduh Israel telah mencoba melakukan sabotase kesepakatan tiga tahap gencatan senjata.
Sementara dalam kesepakatan tiga tahap sebelumnya, pertukaran sandera telah disepakati harus lebih banyak pembebasan bagi tahanan Palestina untuk setiap sandera Israel, lalu dilanjutkan dengan penarikan penuh militer Israel dari Gaza, sebelum akhirnya, dilakukan langkah gencatan senjata yang dapat lebih bertahan langgeng bagi kedua-belah pihak.
Hingga saat ini Hamas dikabarkan masih menahan sekitar 24 sandera Israel dalam kondisi hidup, sementara 34 orang lainnya telah dinyatakan tewas oleh pihak Hamas, selama berlangsungnya pengeboman besar-besaran Israel di sepanjang Jalur Gaza. Sementara itu, ratusan hingga ribuan warga Palestina masih merapati jeruji-jeruji penjara Israel yang dingin.







